banyak kisah kisah romantis yang bikin baper dari nabi junjungan kita yaitu nabi besar Muhammad SAW. dengan istri Beliau Khadijah ra.
berikut ini setitik cerita rommantis beliau
chek it dot .../..... 😍😍😍😍
Kisah indah Nabi Muhammad saw dan Siti Khadijah ra. selalu berkesan untuk dibaca, dikenang dan diteladani. Cinta sejati dan kesetiaan mencintai
diukur setelah perkawinan, bahkan lebih terbukti setelah kepergian yang
dicintai. Kendati Nabi Muhammad saw. Sangat mencintai Aisyah ra., namun
cinta beliau kepada Siti Khadijah ra. pada hakekatnya melebihi cintanya
beliau kepada Aisyah ra., bahkan cinta itu melebihi semua cinta yang
dikenal umat manusia terhadap lawan jenisnya. Sementara hikayat tentang
cinta, seperti Romeo dan Juliet, Lailah dan Majnun, tidak teruji melalui
kehidupan bersama mereka sebagai suami istri. Karena itu, sekali lagi
dikatakan bahwa cinta Rasulullah saw. Kepada Khadijah ra. Adalah puncak
cinta yang diperankan oleh seorang laki-laki kepada perempuan dan
sebaliknya. Sangat besar rasa cinta Rasulullah kepada Khadijah, sampai-sampai Aisyah mengatakan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, “Tidak pernah aku merasa cemburu
kepada seorang pun dari istri-istri Rasulullah seperti kecemburuanku
terhadap Khadijah. Padahal aku tidak pernah melihatnya. Tetapi
Rasulullah seringkali menyebut-nyebutnya. Jika ia memotong seekor
kambing, ia potong-potong dagingnya, dan mengirimkannya kepada
sahabat-sahabat Khadijah.
Maka aku pun berkata kepadanya, “Sepertinya tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah…!”
Maka berkatalah Rasulullah, “Ya, begitulah ia, dan darinyalah aku mendapatkan anak.”
Dalam suatu riwayat dikisahkan, suatu saat Aisyah merasa cemburu,
lalu berkata, “Bukankah ia (Khadijah) hanya seorang wanita tua dan allah
telah memberi gantinya untukmu yang lebih baik darinya? (maksud Aisyah
yang menggatikan Khadijah adalah dirinya). Maka Belaiu pun marah sampai
berguncang rambut depannya. Lalu Beliau bersabda, “Demi Allah! Ia tidak
memberikan ganti untukku yang lebih baik darinya. Khadijah telah beriman
kepadaku ketika orang-orang masih kufur, ia membenarkanku ketika
orang-orang mendustakanku, ia memberikan hartanya kepadaku ketika
manusia lain tidak mau memberiku, dan Allah memberikan kepada anak
darinya dan tidak memberiku anak dari yang lain.”
Maka aku berkata dalam hati,” Demi Allah, aku tidak akan lagi menyebut Khadijah dengan sesuatu yang buruk selama-lamanya.”
Ketika Aisyah ingin menampakkan kelebihannya atas Khadijah, ia
berkata kepada Fatimah ra., putri Nabi dari Khadijah ra.: “Aku gadis
ketika dinikahi ayahmu sedang ibumu adalah janda ketika dinikahi
ayahmu.” Rasul saw. Yang mendengar ucapan ini dari putrinya yang
mengeluh bersabda: “Sampaikanlah kepadanya ‘Ibuku (maksudnya Khadijah
ra) lebih hebat dari engkau, beliau menikahi ayahku yang jejaka, sedang
engkau menikahinya saat beliau duda.”
Disamping itu Rasulullah tidak memadu Khadijah dengan wanita lain, sedang semua istri selainnya dimadu.
Teman-teman Khadiijah pun masih diingat oleh Rasul dan berpesan
kepada putri-putri beliau agar terus menjalin hubungan kasih dengan
mengirimkan hadiah-walau sederhana- kepada mereka.
Ketika Fath Makkah, yakni hari keberhasilan rasul saw memasuki kota
Mekkah bersama kaum Muslim, beliau berkunjung ke lokasi rumah Khadijah
ra., karena rumah itu sendiri telah tiada. Beliau juga-pada hari itu-
menyendiri, di tengah kesibukan bersama pasukan kaum Muslim, dengan
seorang wanita tua sambil bercakap-cakap dengan wajah berseri-seri.
Aisyah ra yang melihat hal tersebut bertanya:”Siapa orang itu dan apa
yang dibicarakannya?” Ternyata wanita tua itu sobat karib Khadijah ra
dan pembicaraan Nabi saw dengannya berkisar pada kenangan manis masa
lalu.
Gerak langkah suara dan ketukan pintu yang biasa dilakukan Khadijah
ra pun terus segar dalam benak dan pikiran beliau. Suatu ketika beliau
mendengar ketukan dan suara serupa. Beliau berkomentar:”Ini cara ketukan
Khadijah. Saya duga yang datang adalah Hala ( saudara perempuan
Khadijah ra.) dan ternyata dugaan beliau benar.
Demikianlah keagungan cinta Rasulullah swa. kepada Khadijah ra. Yang akan tetap terukir indah sepajang zaman.
Wallahu ‘alam

No comments:
Post a Comment