berbicara tentang ikhlas pun membutuhkan keikhlasan. iklas dibutuhkan dimana pun dan kapan pun dan oleh siapa pun.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Sebagaimana
telah diketahui, ikhlas adalah pondasi amalan. Selain harus sesuai
tuntunan, amalan juga harus dilandasi dengan keikhlasan. Tanpanya, amal
dan kebaikan hanya akan menjadi sirna. Bagaikan debu-debu yang
beterbangan.
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah, sejak kapan kiranya kita mendengar kata
ikhlas? Ya, mungkin ada diantara kita yang sudah mendengarnya belasan
atau puluhan tahun. Kita harus ikhlas, karena kalau tidak ikhlas maka
amal kita tidak diterima di sisi Allah, sebesar apapun amal itu.
Kita
sudah mengetahui hal itu sejak lama. Namun, pada kenyataannya
seringkali nilai-nilai keikhlasan itu terkikis, terkoyak, tercabik-cabik
oleh berbagai ambisi dan kepentingan dunia. Ambisi terhadap kedudukan,
pujian, sanjungan, pangkat dan jabatan. Orang rela mencurahkan segala
energi dan potensinya, hanya demi mengejar popularitas dan ketenaran
belaka.
Amal
demi amal dia tumpuk. Kebaikan demi kebaikan dia kerjakan. Prestasi
demi prestasi dia koleksi dan banggakan. Setiap jengkal bumi seolah
menjadi saksi akan langkah dan segenap jasa yang dia berikan kepada umat
manusia dan peradaban. Akan tetapi, Allah Yang Maha Mengetahui isi hati
tidak bisa ditipu mengenai apa yang terdapat di dalam hatinya. Apakah
dia seorang yang mukhlis/benar-benar ikhlas. Ataukah itu semuanya hanya
topeng dan pemanis belaka…
Saudaraku yang dirahmati Allah, Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah
menafsirkan tentang makna ahsanu amalan; amalan yang terbaik. Kata
beliau, ahsanu ‘amalan itu adalah ‘akhlashuhu wa ashwabuhu’ yaitu yang
paling ikhlas dan paling benar. Amal yang Allah terima adalah yang
ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah, sedangkan benar
maknanya jika ia berada di atas tuntunan/as-Sunnah. Poin yang ingin kita
petik di sini adalah perihal keikhlasan…
Syi’ar
orang-orang yang ikhlas itu adalah seperti yang Allah kisahkan
perkataan mereka, “Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kalian
demi mencari wajah Allah, kami tidak ingin balasan ataupun ucapan terima
kasih.” Demikianlah syi’ar dan isi hati mereka. Tidak mengharapkan
balasan dan imbalan dari manusia. Yang mereka inginkan adalah keridhaan
Allah. Mereka juga tidak mencari sanjungan dan simpati massa. Sebab yang
mereka cari adalah wajah Allah semata. Inilah potret keikhlasan yang
sering kita lupakan.
Kita
pun pernah mendengar kisah, tentang tiga orang yang pertama kali
diadili pada hari kiamat. Seorang mujahid, seorang yang berilmu dan
pandai membaca al-Qur’an, dan seorang kaya yang suka memberikan bantuan
dan kepedulian. Ketiga-tiganya harus menerima kenyataan pahit bahwa amal
mereka ditolak di sisi Allah dan membuat mereka masuk ke dalam neraka.
Bukan
karena amalan itu tidak sesuai Sunnah, bukan karena amalan itu kecil
atau tidak memberikan manfaat untuk umat, bukan karena amalan itu remeh.
Namun, karena amal-amal besar yang mereka lakukan telah tercabut dari
akar keikhlasan. Amal dan kebaikan mereka hangus gara-gara tidak
ditegakkan di atas niat yang ikhlas… Sungguh benar ucapan Abdullah bin
al-Mubarok rahimahullah, “Betapa banyak amal yang kecil menjadi
besar karena niatnya. Dan betapa banyak amal yang besar justru menjadi
kecil juga karena niatnya.”
Marilah
kita renungkan! Apa beda takbirnya orang yang ikhlas seratus karat
dengan takbirnya orang yang munafik tulen? Apa bedanya? Tidak ada
bedanya. Karena ucapan takbir ‘Allahu akbar’ ketika sholat diucapkan
siapa pun, entah dia muslim atau munafik. Jadi, masalah ikhlas ini bukan
masalah penampilan, tata-cara dan sifat fisik yang bisa ditangkap
dengan indera. Ikhlas adalah persoalan hati. Sesuatu yang tertancap dan
bergolak di dalam hati seorang insan.
Ikhlas
ini harus berjuang mati-matian untuk bisa eksis dan berjaya di pentas
pertarungan antara pasukan tauhid dan pasukan kemusyrikan, perang yang
dahsyat antara brigade iman dengan gerombolan kekafiran, ikhlas harus
menang dan mengatasi keadaan. Banyak musuh yang mengincarnya. Musuh
mengetahui bahwa ikhlas itulah yang menjadi rahasia kemenangan dan
gerbang keselamatan. Sebagaimana kisah Yusuf ‘alaihis salam yang
begitu menyentuh dan menegangkan. Keikhlasan beliau adalah pintu cahaya
Allah, kunci hidayah dan kesucian diri. Godaan wanita cantik dan
berkedudukan tak berhasil menyeretnya dalam kenistaan.
Kaum
muslimin yang dirahmati Allah, ikhlas selalu berada dalam incaran dan
ancaman. Musuh mengintai dan terus mengawasi gerak-gerik hati. Sebisa
mungkin mereka menargetkan agar hati itu terus terbuai oleh kenikmatan
semu dan kebahagiaan palsu yang dibungkus dengan selebung ketenaran dan
harumnya popularitas. Bahkan, setan berusaha menanamkan pikiran kepada
si manusia bahwa jerih payah memburu popularitas inilah sejatinya cermin
dari keikhlasan. Dia ingin memberikan wajah ikhlas kepada kesyirikan. Na’udzu billahi min dzalik.
Berbicara
tentang ikhlas pun membutuhkan keikhlasan. Ikhlas dibutuhkan dimana pun
dan kapan pun, oleh siapa pun. Oleh sebab itu, wajarlah jika Imam
Bukhari rahimahullah menempatkan hadits innamal a’malu bin
niyaat; bahwa amal dinilai dengan niatnya di bagian awal kitab Sahihnya.
Demikian pula Imam Abdul Ghani al-Maqdisi dalam kitabnya ‘Umdatul Ahkam
serta Imam an-Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin dan al-Arbain
an-Nawawiyah. Ini semua menunjukkan kepada kita tentang pentingnya
meluruskan niat dan menjaga keikhlasan.
Sebagian
ulama salaf bahkan mengatakan, “Tidaklah aku berjuang menundukkan
diriku dengan perjuangan yang lebih berat seperti perjuangan untuk
mencapai ikhlas.” Sebagian mereka juga mengatakan, “Ikhlas itu adalah
‘barang’ yang paling mahal.” Ada juga yang mengatakan, “Ikhlas sesaat
adalah kunci keselamatan untuk selama-lamanya.” Ada pula yang
menasihatkan, “Wahai jiwaku, ikhlaslah kamu niscaya kamu akan selamat.”
Pada
hari kiamat nanti, di padang mahsyar, tatkala matahari didekatkan
sejarak satu mil. Ketika itu manusia bermandikan peluh dan terjebak
dalam genangan keringatnya masing-masing. Di saat itulah Allah berkenan
memberikan naungan Arsy-Nya untuk sebagian hamba pilihan. Hamba-hamba
yang menghiasi dirinya dengan rona keikhlasan dan semangat ketulusan.
Diantara mereka itu adalah, “Seorang lelaki yang berzikir kepada Allah
dalam kesendirian lalu mengalirlah air matanya.” Inilah air mata
keikhlasan dan rasa takut kepada Allah. Ada juga “Seorang lelaki yang
memberikan sedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kirinya
tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” Ini semua
adalah cerminan keikhlasan.
Monday, November 5, 2018
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment